Rabu, 22 Oktober 2014

Welcome Back ! Tutung !

22 Oktober 2011, malam itu di rumah Pak Eko, Wanadadi.... malam terakhir kebersamaanku dengan'nya "Tutung" sebelum akhirnya 23 Oktober 2011 menjadi hari dimana dia mulai merasakan kehidupan barunya di ruang yang bisa dianggap ruang membosankan, yang penuh dengan cobaan dan penuh dengan penyesalan.
Ian Alam Sukarso
Beralih dari konteks itu, beralih dari penyesalan, rasa sedih dan sebagainya ! ini saatnya teriakan kata"MERDEKA" ! bukan merdeka karena penjajahan atau karena pelantikan presiden baru di tahun 2014, kemerdekaan untuk saudaraku Tutung yang sudah bisa kembali ke keluarga "VM" kembali berproses bersama. Welcome back ! selamat, selamat kembali ke alam bebas ini, kembali ke peradaban yang begitu luas, tak sempit seperti ruang yang 3 tahun kurang 1 hari lamanya telah kau lalui dengan teman-teman barumu disana. Selamat, selamat dan selamat ! hanya ungkapan itu yang dapat ku sampaikan. Beberapa saat, dimasa 3 tahunmu itu, saya sering juga menjengukmu, mencoba menghibur, memberi sedikit semangat untuk kehidupanmu, mencoba berbagi dunia diluar duniamu saat itu. 
Vokalis Vegetary Marijuana
Sebenarnya sedikit ada rasa muak dengan "mereka" orang-orang yang dulunya ada disekitarmu, namun tak muncul batang hidungnya manakala kau disana. Mereka entah terlalu sibuk dengan dunia mereka atau memang mereka melupakan begitu saja sosokmu yang tak seperti dulu ketika masih ada diantara mereka. Terima kasih dan saya membungkukan badan merendah dihadapan kalian, "kalian" yang menyempatkan waktu untuk sekedar menjenguknya di balik pagar dengan pengamanan yang begitu ketat. Terima kasih untuk yang pernah besuk kesana, setidaknya sedikit andil dalam proses pengembalian "semangat" yang kini akhirnya dapat dikumpulkan untuk dibesarkan lagi diluar bangunan kokoh itu. Sekali lagi, selamat ! Welcome Back Tutung ! Semangat dan selamat berproses lagi, semangat berkarya lagi...

Selasa, 16 September 2014

Alamat Rumah Kamera Borobudur

Rumah Kamera Borobudur menjadi salah satu destinasi yang sering dituju oleh traveller, entah karena sudah diliput di televisi atau karena memang sudah mulai banyak publikasinya. Hari minggu kemarin saya berhasil menemukan alamat Rumah Kamera tersebut hanya dengan cara iseng alias coba-coba, dengan slogan "iseng aja, kalau nyasar ya masih bisa tanya penduduk setempat". Sempat tanya di salah satu warung, tanya ke yang punya warung eh tiba-tiba ada orang disekitar situ nyaut pembicaraan, dengan nada seperti tukang ojek dia bilang "mau ke rumah kamera mas ? ayo tak antar, bayar 10 ribu aja", otak kiri saya berpikir cepat ! settttttt...... langsung jawab "udah Pak, ga jadi tanya... udah ada peta'nya ini Pak, sambil pegang gadget seolah liat peta". Nah setelah jalan sekitar 10 menit akhirnya liat bangunan tinggi di pinggir jalan dengan bentuk seperti kamera.
Rumah Kamera Borobudur
Sedikit bercerita tentang Rumah Kamera, yaitu rumah milik seniman, seorang pelukis kelahiran Semarang, Jawa Tengah yang bernama Bapak Tanggol Angien Jatikusumo , beliau membuat rumah kamera ini untuk gallery lukisan yang telah dibuat dan dijadikan sebagai tempat belajar melukis untuk siapa saja yang ingin belajar melukis bersama beliau. Ketika kemarin ke Rumah Kamera, ketemu langsung dengan Bapak Tanggol Angien dan sedikit ngobrol sana-sini tentang visi misi beliau membangun rumah kamera tersebut. Beliau juga bercerita tentang planning membuat tempat pertunjukan disitu, niatnya nanti kalau sudah jadi, akan digunakan untuk pertunjukan musik, tari, teater dan sebagainya. Nah kebetulan ngobrolnya sedikit nyambung karena sama-sama suka di bidang itu. Sempet juga foto bareng beliau, mengabadikan moment dan buat stock DP BBM biar temen-temen ngiri, mungkin termasuk kalian yang sedang tersesat di artikel ini, niatnya cari alamat rumah kamera borobudur kan ? eh malah masuk ke artikel ga jelas gini, kasian deh... tapi tenang aja, dengan keyakinan kuat, kalian bisa nyampai sana kok, kalau udah nyampe borobudur, nanti tanya aja hotel manohara, nah dari situ ngikutin jalan terus nanti sampai ketemu tanah lapang di kiri jalan, maju sedikit nanti sudah bisa terlihat Rumah Kamera yang kalian cari.
Tanggol Angien Jatikusumo pemilik rumah kamera borobudur
Bapak Tanggol Angien Jatikusumo

Selasa, 09 September 2014

Jalur Pendakian Gunung Merbabu Via Selo

sumber gambar : infopendaki.com

Lama sekali tidak menulis di blog, serasa jari-jari tangan ini beku oleh es kutub utara. Kali ini mentari begitu terik, membuat es yang bersemayam di sela-sela jari tanganku ini mencair, hingga tulisan pertama yang dapat tertulis dengan berat adalah Jalur Pendakian Gunung Merbabu Via Selo", judul ini saya tulis sebagai media untuk mendapatkan banyak peselancar dunia maya untuk tersesat di rumah ini, blog ini saya sebut rumah virtual saya, disini saya bebas memasak, mandi, tidur hinga buang air besar disini. Mungkin kalian sedikit kesal menemukan tulisan ini, yang kalian maksud mungkin peta dengan detailnya yang dapat membantu kalian untuk naik ke puncak gunung Merbabu, tapi ini lain ! ini bukan tentang peta atau petunjuk menuju Puncak Klenteng Songo, Gunung Merbabu. Kalian penasaran dengan tulisan ini ? alangkah baiknya streaming video berikut ini

Video tersebut adalah saksi perjalanan kami ber-sebelas menuju puncak Klenteng Songo, Gunung Merbabu. Silakan menikmati puncak Gunung Merbabu dengan panorama awan yang bergerak bagaikan ombak di lautan luas. Simak video'nya, abaikan segala hal yang menurut kalian tidak penting, tidak perlu banyak berfikir, setelah menyaksikan video ini, bergegaslah menyiapkan logistik, DOM, Sleeping Bag dan tas Carrier untuk bergerak menuju Puncak Gunung Merbabu. Persembahanku untuk ke 10 temanku yang pada saat itu menjadi sebuah tim yang solid, mereka adalah : Arif ( tini ), Rayan, Bagus, Surya Pachypo, Ogi, Dika, Bagus UNY, Yasin, Haritz dan Bayu

Jumat, 11 Juli 2014

#PagelaranLenteraMalam

Mungkin banyak tweet dengan hashtag #PagelaranLenteraMalam yang begitu memunculkan banyak sekali pertanyaan, seperti pertanyaan, itu acara apa sih ? kapan sih ? dimana ? band'ku boleh ikut main ? dan masih bervarian pertanyaan yang terlontar. Disini saya ingin menuliskan sedikit gambaran acara Pagelaran Lentera Malam yang akan diselenggarakan pada tanggal 19 Juli 2014 bertempat di Gallery Terminal Baru Banjarnegara ( lantai 2 ). Simak gambar berikut :
Pagelaran Lentera Malam, Lentera Malam, #PagelaranLenteraMalam
#PagelaranLenteraMalam
Awalnya cerita acara ini adalah Boby, Imam dan Bimbim ( mereka bertiga adalah member dari Lentera Malam) telah menyelesaikan 3 lagu yang siap mereka kenalkan ke khalayak ramai, atau istilah keren'nya adalah launching E.P. tapi dilain pemikiran, muncul pemikiran untuk membuat sebuah acara yang tidak hanya musik seperti acara-acara yang sudah sering diadakan di Banjarnegara. Konsep #PagelaranLenteraMalam ini dibuat sebagai sarana untuk menampung atau lebih spesifiknya lagi untuk media publikasi karya, baik itu foto, lukisan, patung, atau artwork lain yang terpendam begitu saja. Saya ditarik di Lentera Malam untuk bantu penggarapan event #PagelaranLenteraMalam ini, mulai dari bantu konsep, proposal, cari sponsorship, dekorasi, publikasi, dokumentasi, setiap proses yang saya lewati menjadi sebuah proses pembelajaran yang tak ternilai harganya... suka duka yang ada tak mengurangi sedikitpun niat untuk berproses secara maksimal untuk event ini. Bersama teman-teman teater Bimalukar, Mas David Budjhel, Mas Fadel EiSY, Dek Elza dan beberapa temen-temen yang tidak bisa disebutkan satu per satu, event ini dalam proses menuju hari yang telah ditentukan yaitu Sabtu, 19 Juli 2014.

Sangat mengharapkan partisipasi temen-temen di Banjarnegara, baik kalian para pelaku seni maupun penikmat seni, mengharapkan kedatangan temen-temen semua di acara #PagelaranLenteraMalam tanggal 19 Juli 2014 di Gallery Terminal Baru Banjarnegara ( lantai 2 ), acara ini dilaksanakan mulai pukul 14:00 hingga 21:00 wib ( FREE / GRATIS ).

Untuk yang ingin berpartisipasi, silakan contact saya di 085729767613 / PIN : 73E33A19 

Senin, 16 Juni 2014

Hari ini, aku jatuh cinta dengan Melbi ( melancholic bitch )

Awal Cerita - Jum'at malam hingga hari ini ( senin siang ) aku mengasingkan diri dari kontrakan ataupun dari tempat-tempat yang biasa untuk bersinggah. Kali ini aku mengasingkan diri disebuah rumah berlantai dua dengan pemandangan yang cukup hijau, berselimut padi yang sebagian mulai menguning, bertempat di daerah Gamping, Yogyakarta. Sebenarnya ini bukan pertama kali aku berada di rumah ini, ini sudah kesekian kalinya, tapi ini pertama kalinya aku jatuh cinta dengan perjalanan mencari sesuatu yang baru, dimana aku bisa berdiskusi tentang kehidupan, kesenangan, sedikit juga terkadang membahas masalah cinta yang begitu membosankan sebenarnya untuk diperbincangkan. Tak dipungkiri, kecintaanku terhadap musik membuat teman saya mendoktrin musik-musik cadas seperti Festivalis, Seringai dan juga Melancholic Bitch (Melbi) yang saat ini mulai saya pelajari dari segi lirik dan cara pandang mereka dalam berkesenian.
Slamet Tridianto - teman sebaya yang saya kenal ketika duduk di bangku sekolah menengah kejuruan, dia yang dulunya tidak terlalu mendalami musik, kini berubah 180 derajat. Referensi musik yang dia dalami salah satunya adalah melancholic bitch (melbi) yang mendorong saya untuk mencoba menggali apa yang ada pada MELBI ini.
foto melancholic bitch
Melancholic Bitch ( Melbi )
Love at first sight, mungkin ini yang terjadi saat ini, ketika aku ditinggalkan temanku kuliah, aku terkurung dalam rumah besar berlantai dua, mengerucut di lantai dua di ruang berbataskan triplek tebal, berukuran 3 x 3,5m ini, aku membuka video pertunjukan Melancholic Bitch (Melbi) dengan judul "Simelbi Joni Susi Go to America" yang di ambil dari youtube. Begitu menakjubkan, menegangkan, menginspirasi dan membuatku berontak, berkata "Kenapa aku tidak mencoba bercinta dengan Melbi ?" , aku harus menggali apasaja yang ada dalam melbi, mencoba mengutip sedikit dari mereka untuk saya tuangkan di band yang saat ini sedang dalam keadaan fakum karena satu hal. Hari ini, senin juni di hari ke-16 saya berkata "Aku jatuh cinta dengan Melbi", terimalah surat cintaku ini, semoga kita bisa bercinta di suatu saat nanti, entah itu di Neptunus ( luar angkasa ) atau bahkan di Bumi Nusantara ini.


Kamis, 03 April 2014

Sikunir Dieng 30 & 31 Maret 2014 oleh 3 backpacker nekat


everydayiseeyou
Malam minggu itu tanggal 29 Maret 2014 di sebuah tempat nongkrong sebut saja "Serayu Park" semacam dinner atau lebih tepatnya numpang minum teh jahe hangat sambil dengerin Nyetnyet karaoke. Malam itu kita 6 orang, 3 diantaranya yaitu jaka, nyetnyet dan saya, sedikit ada obrolan untuk mengatasi beberapa kali plan ke Sikunir yang gagal terus menerus. Jaka dan saya deal untuk naik ke Sikunir hari minggu (30 maret 2014), langsung saja contact temen-temen lain via sms, bbm, dll. sementara itu nyetnyet yang ingin ikut juga harus nunggu persetujuan dari Ibu'nya, maklum lah dia cewek jadi sedikit lebih ribet untuk urusan ijin bermalam. Minggu pagi sekitar jam 6 saya contact temen-temen untuk mengkonfirmasi siapa saja yang jadi ikut sekaligus browsing cari persewaan tenda dan beberapa perlengkapan lain. Sedikit terkejut dengan jawaban jaka yang mendadak tidak bisa ikut karena kewajiban dia di kerjaan, ya sudahlah akhirnya saya tetapkan 3 orang saja untuk ke Sikunir. Browsing sana browsing sini, akhirnya nemuin DiengPazz, tempat persewaan peralatan outdor seperti tenda, matras, sleeping bag, dll. , ada contact person yg bisa dihubungi, langsung saja saya contact untuk booking tenda, matras, sleeping bag dan tas. Sedikit lega karena sudah ada peralatan, semenjak pagi itu terus contact ke adwin & nyetnyet yang akan jadi partner untuk ke sikunir. Awalnya nyetnyet hampir tidak jadi ikut karena ada saudaranya yang datang dari luar kota, tapi tak selang lama dia kasih kabar "aku jadi ikut, diijinin sama mamah", fix akhirnya kita berangkat bertiga. 

nyetnyet ipongdjembe
adwin, saya, nyetnyet (dari kiri ke kanan)
 Start pukul 11:00 wib dari rumah, jemput nyetnyet sambil pamitan ke Ibu'nya, lalu jalan ke paweden untuk ketemu mas adwin yang berangkat dari wanadadi sendirian. Hujan dengan angin besar menghentikan perjalanan kita, berteduh untuk berkemas-kemas barang bawaan dan mengenakan mantel, akhirnya lanjut perjalanan ke paweden. Sampai di paweden sudah terlihat mas adwin yang lengkap dengan seragam tempurnya ( dibaca : mantel / jas hujan), lalu kita lanjutkan perjalanan dengan tujuan Dieng Kulon ( Batur, Banjarnegara) untuk ambil tenda, matras, dan sebagainya. Setelah perjalanan sekitar 1,5 jam, akhirnya mendarat di DiengPazz, sebuah tempat penyewaan alat-alat outdor. Sembari packing untuk melanjutkan perjalanan, sejenak istirahat di DiengPazz dan sempat keluar cari makan, terdampar di pedagang kaki lima yang menjajakan gorengan hangat yang begitu cocok dengan keadaan dingin yang mulai bisa dirasakan oleh tubuh ini. Nah kita lanjutkan perjalanan dari diengpazz menuju desa sembungan yang konon katanya adalah desa tertinggi di pulau jawa, perjalanan sekitar 10 menit dengan menggunakan kendaraan bermotor. Tibalah di sebuah gerbang bertuliskan "Welcome to Sembungan Village", sayangnya disini ga bisa foto karena pas lewat, ada rombongan motor-motor besar yang berjajar disana untuk mengambil foto, istilahnya kita kalah set sama mereka. Sekedar info untuk pendaki yang ingin bermalam di Sikunir atau telaga cebong, per orang dikenakan biaya Rp. 4.000,- kemudian untuk ijin mendirikan tenda sebesar Rp. 5.000,- per tenda. Sampailah kita di telaga cebong, disana ternyata tak seperti yang kubayangkan, disana begitu ramai, ratusan pendaki sudah siap disana, ada yang baru sampai, ada yang sudah mulai mendirikan tenda dan banyak yang sibuk hunting foto. Akhirnya kita bertiga parkir & menitipkan helm, lalu siap mendirikan tenda di pinggir telaga cebong.
Telaga Cebong desa Sembungan Dieng
setelah parkir langsung deh narsis dengan bantuan tripod kecil alakadarnya
telaga cebong desa sembungan dieng elza s virgina ipongdjembe

telaga cebong desa sembungan dieng

telaga cebong desa sembungan dieng

telaga cebong desa sembungan dieng

telaga cebong desa sembungan dieng

telaga cebong desa sembungan dieng

Setelah tenda jadi, hari mulai petang maka itu waktunya istirahat di tenda, ngobrol ngalor ngidul, main tebak-tebakan dan sempet keluar tenda untuk bikin api unggun dan ke warung cari makan, kebetulan disana ada warung yang buka sampai malam. Setelah tidur nyenyak hingga pukul 02:30 dini hari saya terbangun dan menengok keluar tenda melihat langit yang begitu gemerlap oleh bintang yang menyambut dengan senyum ramahnya, tak ketinggalan juga hawa dingin yang menusuk tulang. Pukul 03:00 saya bangunkan adwin dan nyetnyet untuk prepare naik ke puncak Sikunir, akhirnya sekitar pukul 03:30 wib kita mulai pendakian ke puncak Sikunir yang jaraknya sekitar 800 meter dari telaga cebong. Gelap dan menanjak membuat nyetnyet sering minta break istirahat, maklum lah dia cewek jadi kita maklumi, walaupun sebenarnya perjalanan naik masih tergolong sangat mudah, tangga-tangga batu & tanah sudah jelas track'nya.Sekitar 30 menit, kita sampai di puncak Sikunir dengan ratusan pendaki lain yang sudah datang lebih awal untuk mencari posisi yang cocok untuk menikmati pemandangan pagi yang begitu menakjubkan yaitu golden sunrise. Sekitar 500'an orang lebih yang ada di Sikunir saat itu, membuat saya sedikit kerepotan cari spot untuk pengambilan foto.
Golden Sunrise Sikunir, Dieng

Golden Sunrise Sikunir, Dieng

Golden Sunrise Sikunir, Dieng

Golden Sunrise Sikunir, Dieng

Golden Sunrise Sikunir, Dieng

Golden Sunrise Sikunir, Dieng

Golden Sunrise Sikunir, Dieng

Golden Sunrise Sikunir, Dieng
Setelah merasa puas di puncak Sikunir Dieng, akhirnya kami bertiga turun untuk kembali ke tenda di telaga cebong, sekitar pukul 08:00 wib dari puncak. Sampai di tenda, sempet istirahat sebentar, makan jajan, minum, foto-foto dan bongkar tenda.
Telaga cebong desa sembungan dieng


Setelah selesai packing, kita lanjut untuk bergegas pulang karena hari sudah mulai siang dan terik. Sekian cerita dari 3 backpacker nekat yang akhirnya bisa membunuh rasa penasaran akan pesona alam Puncak Sikunir yang begitu indah. Kami bertiga tidak bisa menggambarkan atau mengungkapkan bagaimana keindahannya, begitu indah, anda perlu kesana untuk membuktikannya. Sekedar info saja, jika anda ke Sikunir bulan juli-agustus, siapkan penghangat tubuh yang lebih ekstra, karena cuaca di bulan itu begitu extrim, dingin sekalia (*sumber : warga desa batur), terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca tulisan ini, saya bukan petualang sejati, jadi harap maklum jika tulisan ini berantakan tak seperti para master backpacker yang biasnya lebih detail menginformasikan perjalanan menuju suatu tempat.


Sabtu, 08 Februari 2014

Perjalanan Pantai Klayar Pacitan

Tangggal 20 Januari 2014, sekitar pukul 23:00 wib ruang depan kamar kontrakan hapir penuh dengan orang, mereka adalah temen-temen kampus yang akan melakukan perjalanan liburan ke Pacitan, lebih tepatnya ke pantai Klayar dan Goa Gong. 16 orang yaitu Mas Angga, Tiwi , Haris (mblora) , Mba Bud , Reza, Iwan, Ipul, Bayu, Ratri, Nandez, Herlinda, Sigit, Indah, Bregas, PakDhe dan saya, memulai perjalanan dari Jogja pukul 00:15 masuk tanggal 21 Januari 2014, berangkat dengan 3 mobil di dini hari. Perjalanan malam biasa kita lakukan ketika berlibur, alasannya adalah jalanan sepi jadi enak dan selain itu biar sewa mobilnya enak bisa 24 jam full.
Perjalanan yang cukup membuat saya tertidur sekitar 30 menit, banyak cerita di dalam perjalanan tersebut, cerita soal kuliah, kerja, soal asmara juga ada sesi curhatnya. Langsung saja ke arah jam 2 pagi, kita sudah sampai di Pasar Pacimantoro, oke skip perjalanan setelah itu, langsung saja kita menuju jam 4 pagi kita transit di terminal pasar Punung ( Pacitan ). Jam 4 kita makan bakso, minum teh hangan dan kopi, serta yang membuat sedikit panik temen-temen adalah TOILET belum ada yang buka jam segitu, banyak dari temen-temen yang menahan BAK gara-gara ga ada toilet yang buka. 
Usai istirahat makan tersebut, melanjutkan perjalanan sekitar 10 menit menuju sebuah Masjid untuk menjalankan Ibadah Sholat Subuh, serta kesempatan untuk buang air kecil dan buang air besar di Toilet yang berada di sekitar Masjid. Setelah selesai beribadah, kita lanjutkan perjalanan menuju Pantai Klayar, melalui jalanan kecil dan sedang ada pelebaran jalan.
Perjalanan ke Pantai Klayar, Pacitan

Jam tangan menunjukan pukul 06:00 wib dengan sinar Matahari yang sudah menerangi indahnya pantai dan pemandangan alam yang begitu menyegarkan dan begitu membuat semangat kami semua, walaupun badan berkata "Aku lelah".
Pantai Klayar, Pacitan
Setelah sampai di tempat parkir, kaki ini langsung telanjang dan berlari ke bibir pantai dengan pasir yang begitu menarik. Tak lama kemudian juga baju mulai terlepas untuk menambah absurd moment di Pantai Klayar, Pacitan.
ipongdjembe

ipongdjembe

ipongdjembe

Pantai Klayar, Pacitan

Pantai Klayar, Pacitan

Pantai Klayar, Pacitan

Pantai Klayar, Pacitan

Pantai Klayar, Pacitan

Pantai Klayar, Pacitan

Pantai Klayar, Pacitan

Pantai Klayar, Pacitan

Banyak moment menarik yg kita alami disana, canda tawa lepas layaknya ombak yang bergerak bebas tanpa beban, menerjang karang yg kokoh. Ini salah satu liburan yg berkesan !!!


Sabtu, 04 Januari 2014

Candi Gedong Songo, Ungaran Cuma Mampir Foto

Halloooooo..... saya balik lagi di blog ipongdjembe ini, menuhin janji di posting sebelumnya yaitu janji untuk upload foto-foto waktu mampir ke Candi Gedong Songo ( Ungaran ). Posting saya sebelumnya bisa anda baca di sini -> Pendakian Gunung Ungaran Via Candi Gedong Songo. Setelah perjalanan cukup melelahkan dari puncak Gunung Ungaran, akhirnya sedikit lega bisa mendarap dengan selamat di kawasan Candi Gedong Songo, yaitu tempat dimana kita start untuk pendakian ke puncak Gunung Ungaran, langsung saja beberapa foto di Candi Gedong Songo sebagai berikut :
Candi Gedong Songo Ungaran
say hellooo ke kamera dulu

Candi Gedong Songo Ungaran
With Agung

Candi Gedong Songo Ungaran
Thank You Tripod

Candi Gedong Songo Ungaran
crowded

Candi Gedong Songo Ungaran
fish eye

Candi Gedong Songo Ungaran
Agung Wijaya

Candi Gedong Songo Ungaran
turun, turun dan turun

ipongdjembe
Numpang Narsis

Candi Gedong Songo Ungaran
Candi Gedong I

Turun lagi ayoooooooo

ipongdjembe
makan yuk ?
Nah itu beberapa foto yang sempat diabadikan dengan Nikon punya kak Agung dengan lensa fish eye'nya. Dan cukup disini penulisanku untuk post kali ini, ditunggu di perjalanan saya selanjutnya. Terima kasih untuk waktu yang anda luangkan untuk membaca blog ipongdjembe